Profil Erling Haaland, Mesin Gol Norwegia yang Ingin Jadi Petani Setelah Pensiun

Profil Erling Haaland, Mesin Gol Norwegia yang Ingin Jadi Petani Setelah Pensiun
Profil Erling Haaland, Mesin Gol Norwegia yang Ingin Jadi Petani Setelah Pensiun
Jangan lupa dibagikan ya!

Di tengah Piala Dunia 2026 yang sedang berlangsung, satu nama terus mendominasi perbincangan dunia sepak bola: Erling Braut Haaland. Penyerang Manchester City ini bukan hanya mesin gol yang efisien di atas lapangan, tapi juga sosok yang penuh sisi menarik di luar sepak bola. Profil Erling Haaland mencakup perjalanan panjang dari kampung halaman kecil di Norwegia hingga menjadi salah satu pemain paling ditakuti di dunia, sekaligus pribadi yang membeli buku sejarah Viking seharga ratusan juta rupiah dan bercita-cita jadi petani setelah gantung sepatu.

Riwayat Karier dan Pencapaian Erling Haaland

Lahir pada 21 Juli 2000 di Leeds, Inggris, Haaland tumbuh besar di Bryne, Norwegia, kampung halaman ayahnya Alf-Inge Haaland yang juga pernah menjadi pesepak bola profesional. Perjalanan kariernya dimulai dari akademi Bryne sebelum bergabung dengan Molde pada 2017, di mana dia mulai menarik perhatian dengan konsistensi golnya di level senior.

Kepindahan ke Red Bull Salzburg pada 2019 menjadi titik awal peluncurannya ke panggung dunia. Di sana dia mencetak 9 gol dalam satu pertandingan saat membela Norwegia U-20 di Piala Dunia U-20, rekor yang masih bertahan hingga saat ini sebagai gol terbanyak dalam satu laga di ajang tersebut. Borussia Dortmund kemudian merekrutnya pada Januari 2020, dan dua musim penuh di Bundesliga menegaskan statusnya sebagai salah satu striker muda paling berbahaya di Eropa.

Manchester City merekrut Haaland pada Juli 2022, dan apa yang terjadi setelahnya nyaris tidak masuk akal. Di musim perdananya, dia mencetak 52 gol di semua kompetisi dalam satu musim, rekor Premier League yang menghancurkan standar sebelumnya. Bersama City, dia sudah memenangkan Premier League, Liga Champions, FA Cup, Piala Liga, FIFA Club World Cup, UEFA Super Cup, dan Community Shield. Kontraknya pun diperpanjang hingga 2034, sebuah komitmen jangka panjang yang menunjukkan betapa pentingnya dia dalam rencana klub.

Di level internasional, profil Erling Haaland bersama timnas Norwegia tidak kalah mengesankan. Dia menjadi pemain tercepat di abad ke-21 yang mencapai 50 gol internasional, melakukannya dalam hanya 46 pertandingan dan memecahkan rekor Harry Kane. Sepanjang kualifikasi Piala Dunia 2026, Haaland mencetak 16 gol dalam 8 pertandingan, menyamai rekor Robert Lewandowski dan menjadi salah satu dari hanya dua pemain yang pernah mencetak gol di 8 laga kualifikasi Piala Dunia secara beruntun.

Haaland di Piala Dunia 2026 dan Rekor yang Terus Pecah

Piala Dunia 2026 adalah debut Haaland di turnamen terbesar dunia, dan dia langsung membuktikan bahwa panggung paling besar justru mengeluarkan yang terbaik dari dirinya. Hingga babak 16 besar, Haaland sudah mengoleksi 7 gol dari 4 penampilan, bersaing di puncak daftar top skor bersama Lionel Messi dan Kylian Mbappe.

Distribusi golnya merata di setiap laga: dua gol saat mengalahkan Irak 4-1 di laga pembuka, dua gol lagi saat menang 3-2 atas Senegal, satu gol penentu kemenangan tipis 2-1 atas Pantai Gading di babak 32 besar, dan brace dramatis yang mengantar Norwegia menyingkirkan Brasil 2-1 di babak 16 besar.

Brace ke gawang Brasil menjadi momen yang langsung masuk buku sejarah. Haaland menjadi pemain pertama sejak legenda Jerman Barat Gerd Muller pada Piala Dunia 1970 yang berhasil mencetak 7 gol dalam 4 penampilan perdana di turnamen ini. Efisiensinya yang luar biasa vs Brasil juga jadi sorotan khusus: sepanjang pertandingan dia hanya melakukan 4 sentuhan di kotak penalti, tapi dua di antaranya berakhir jadi gol. Pat Nevin, mantan pemain sayap Skotlandia yang mengomentari laga tersebut di BBC Radio 5 Live, menyebut gol keduanya sebagai sesuatu yang tidak seharusnya ada peluang sama sekali di sana.

Kemenangan atas Brasil juga mengantarkan Norwegia menembus babak perempat final untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, sebuah pencapaian yang melampaui partisipasi terbaik mereka sebelumnya. Norwegia kini menunggu Inggris di perempat final pada 11 Juli 2026.

Dari Ha-Baby Hingga Lelang Kronik Raja-Raja Viking

Di luar lapangan, profil Erling Haaland sama menariknya. Di China, Haaland menjadi fenomena internet tersendiri dengan julukan “Ha-Baby” yang viral di Douyin dan Weibo. Fenomena ini bukan terjadi tiba-tiba karena gayanya yang santai, jujur, dan polos saat wawancara sering menghasilkan kutipan yang langsung menjadi bahan meme dan konten viral di berbagai platform.

Salah satu momen paling tidak terduga dari sosok Haaland terjadi pada Desember 2025. Bersama ayahnya Alf-Inge, Haaland diam-diam menjadi penawar misterius melalui telepon dalam sebuah lelang buku di Norwegia. Yang mereka beli bukan sembarang buku: edisi cetakan pertama tahun 1594 dari Heimskringla, kronik raja-raja Viking karya Snorri Sturluson yang ditulis dalam bahasa Norwegia-Denmark. Buku ini adalah satu-satunya salinan lengkap yang masih berada di tangan swasta dan dianggap sebagai “holy grail” literatur Norwegia. Harga yang dibayar mencapai 1,3 juta kroner Norwegia, setara sekitar Rp19 miliar, menjadi rekor harga tertinggi untuk penjualan buku dalam sejarah Norwegia.

Yang membuat momen ini semakin mengharukan adalah apa yang Haaland lakukan setelahnya. Alih-alih menyimpan buku tersebut sebagai koleksi pribadi, dia mendonasikannya ke perpustakaan di kampung halamannya di Time, Jæren, dengan syarat buku harus dipajang permanen dan bisa dibaca siapapun. Dia juga meluncurkan kompetisi membaca untuk anak-anak dan remaja setempat, dengan kelas pemenang mendapat perjalanan ke Ullevaal Stadium untuk menyaksikan pertandingan timnas Norwegia bersama Haaland dan rekan-rekannya.

“Saya ingin buku itu selalu terbuka agar orang bisa membaca tentang mereka yang berasal dari daerah saya,” kata Haaland.

menariknya, dalam wawancara yang sama dia mengakui dirinya tidak pernah menjadi pembaca yang baik. Itulah yang membuat gestur ini terasa jauh lebih tulus.

Sisi lain dari Haaland yang jarang diketahui publik umum adalah keterlibatannya di dunia hiburan. Dia akan debut sebagai pengisi suara di film animasi bertajuk “ViQueens”, memerankan karakter Viking bernama Haaland. Film ini disutradarai Harald Zwart, sutradara yang juga menangani The Karate Kid pada 2010, dan dijadwalkan tayang di bioskop pada Natal 2026. Zwart menyebut Haaland sudah menjadi semacam ikon Viking nyata di seluruh dunia, menjadikannya pilihan yang sangat natural untuk peran ini.

Haaland Ingin jadi Petani Setelah Pensiun

Tidak banyak pemain bintang dunia yang membayangkan pensiun dengan cara seperti yang Haaland impikan. Saat ditanya dalam sebuah sesi wawancara, jawabannya langsung mengundang senyum: kalau tidak jadi pesepak bola, dia ingin jadi tukang las atau petani. Bukan jawaban basa-basi karena pernyataan serupa sudah pernah dia sampaikan dalam wawancara dengan ESPN pada Januari 2022, saat masih membela Borussia Dortmund.

Lebih jauh, Haaland mengaku punya mimpi memiliki peternakan hewan dan ladang pertanian yang luas setelah gantung sepatu, berlokasi di Bryne, kampung halamannya di Norwegia. Baginya, menjalani kehidupan sederhana di tengah alam pedesaan Jæren sambil merawat hewan ternak adalah visi pensiun yang paling menarik.

“Tempatnya mungil saja di Bryne. Saya belum tahu di mana lokasinya, tapi yang pasti akan ada hewan-hewan di sana,” katanya.

Kontrak Haaland dengan Manchester City sendiri masih berjalan hingga 2034, artinya “pensiun” masih jauh dari agenda. Tapi dengan semua yang sudah dia capai di usia 25 tahun, gambaran tentang profil Erling Haaland sebagai sosok yang lebih memilih ketenangan ladang daripada sorotan kamera setelah pensiun justru terasa sangat autentik dan konsisten dengan karakter aslinya.