Beberapa tahun lalu, kabar soal Bioshock Infinite kembali ramai diperbincangkan setelah munculnya rumor pengembangan Bioshock 4 yang kali ini tidak melibatkan Ken Levine, sang kreator asli seri ini. Buat banyak orang, ini jadi pengingat betapa berpengaruhnya Infinite sebagai sebuah karya, sekaligus pertanyaan besar apakah sekuel berikutnya bisa menandingi apa yang sudah dibangun di Columbia. Kalau kamu belum pernah menyentuh game ini sama sekali, atau sudah lama merencanakan tapi terus ditunda, sekarang adalah waktu yang tepat.
Columbia dan Cara Bercerita yang Tidak Biasa
Hal pertama yang akan kamu rasakan saat memulai Bioshock Infinite adalah betapa pintarnya game ini menyampaikan cerita tanpa pernah merasa menggurui. Kamu tidak dibanjiri cutscene panjang, narasi bertele-tele, atau teks penjelasan yang memenuhi layar. Sebaliknya, dunia Columbia dibangun lewat detail-detail kecil yang tersebar di sepanjang gameplay, dan semuanya bekerja bersama untuk membentuk gambaran besar yang baru benar-benar terasa lengkap saat kamu mencapai bagian akhir.
Dari menit-menit pertama, Bioshock Infinite sudah meletakkan fondasi ceritanya dengan sangat cerdas. Kamu memulai perjalanan dengan nuansa yang gelap dan penuh misteri, lalu dalam hitungan detik dilempar ke Columbia yang cerah, tertata rapi, dan terasa seperti utopia. Kontras ini bukan kebetulan. Di balik wajah kota yang sempurna itu tersimpan banyak hal yang mulai retak semakin jauh kamu melangkah, dan game ini tidak pernah perlu memberitahu kamu secara eksplisit bahwa sesuatu yang salah sedang terjadi. Kamu merasakannya sendiri.
Salah satu contoh paling ikonik dari cara bercerita ini adalah Lutece Twins, dua karakter yang kamu temui sangat awal di dalam game. Dialog pertama mereka terasa seperti sesuatu yang random dan tidak penting. Tapi kalau kamu sudah menyelesaikan game ini, kamu akan kembali ke momen itu dan menyadari bahwa percakapan sederhana soal “dia tidak mendayung” itu sebenarnya adalah penjelasan tentang keseluruhan filosofi dan konsep parallel universe yang menjadi tulang punggung cerita Infinite. Penjelasan yang rumit disampaikan dalam dua kalimat, dan kamu bahkan tidak menyadarinya sampai semuanya sudah terlambat untuk dihindari.
Elizabeth dan Standar AI Companion yang Belum Banyak Terlampaui
Satu hal lain yang membuat Bioshock Infinite tetap relevan bahkan lebih dari satu dekade setelah rilisnya adalah Elizabeth. Di era sekarang di mana AI companion dalam game sudah semakin canggih secara teknis, Elizabeth masih sering disebut sebagai salah satu implementasi terbaik dari karakter pendamping yang benar-benar terasa hidup.
Yang menarik adalah sistem di balik Elizabeth sebenarnya tidak revolusioner secara teknis. Dia bereaksi terhadap environment trigger, bukan sistem AI yang sangat kompleks. Tapi implementasinya yang sempurna itulah yang membuat perbedaan besar. Elizabeth berinteraksi dengan lingkungan secara natural, melempar amunisi atau uang saat kamu membutuhkannya tanpa pernah diminta, dan bereaksi terhadap situasi dengan cara yang membangun koneksi emosional nyata antara dia dan pemain. Dia tidak pernah terasa seperti beban, tidak pernah menghalangi jalanmu, dan tidak pernah membuatmu merasa sedang menjaganya. Justru sebaliknya.
Dalam konteks Bioshock Infinite sebagai keseluruhan, Elizabeth bukan hanya companion yang membantu secara mekanis. Dia adalah inti dari cerita, dan perlakuan game ini terhadap karakternya adalah salah satu alasan kenapa banyak pemain merasa perlu memainkannya dua kali untuk benar-benar memahami semua yang sudah terjadi.
Sekarang Adalah Waktu yang Tepat untuk MAin Bioshock Infinite
Bioshock 4 dikabarkan sedang dalam pengembangan, dan kali ini tanpa keterlibatan Ken Levine. Tidak ada yang tahu seperti apa arahnya, dan itulah yang membuat momen ini terasa penting. Sebelum seri ini bergerak ke babak baru yang mungkin sangat berbeda dari fondasi yang sudah dibangun, ada baiknya kamu mengenal dulu apa yang membuat seri ini begitu dihormati.
Bioshock Infinite bukan game yang sempurna dalam segala aspek. Combat-nya solid tapi bukan yang paling menonjol di genrenya. Tapi sebagai sebuah pengalaman yang menggabungkan world-building, storytelling, desain karakter, dan pacing dalam satu paket yang utuh, sangat sedikit game yang bisa berdiri sejajar dengannya. Game ini tidak menganggap kamu bodoh. Kamu diajak berpikir, dibuat penasaran, dan diberikan kepuasan yang tidak datang dari boss fight yang sulit, tapi dari momen ketika semuanya tiba-tiba terasa masuk akal sekaligus.
Itu adalah jenis kepuasan yang jarang bisa diberikan medium apapun, dan Bioshock Infinite melakukannya lewat sebuah first person shooter. Kalau kamu butuh satu alasan untuk akhirnya memainkannya, biarlah ini jadi yang terakhir yang kamu butuhkan. Untuk MembeliĀ game favoritmu di Steam, kamu bisa cek VocaGame dengan harga kompetitif dan proses yang cepat.
