Wednesday, February 11, 2026
HomeVoucherEntertainmentOne More Time, One More Chance: Melodi Gagal Move On dari Masayoshi...

One More Time, One More Chance: Melodi Gagal Move On dari Masayoshi Yamazaki

Bagi pecinta sinema animasi Jepang, mendengar petikan gitar akustik yang lembut diiringi suara serak khas Masayoshi Yamazaki adalah sebuah undangan untuk kembali patah hati. Lagu “One More Time, One More Chance” bukan sekadar karya musik yang kini bisa didengarkan di spotify; ia adalah monumen bagi perasaan-perasaan yang tak tersampaikan dan rindu yang tak kunjung menemui muaranya. Sejak menjadi lagu tema penutup untuk mahakarya Makoto Shinkai, 5 Centimeters per Second (2007), lagu ini telah mengukuhkan statusnya sebagai Melodi Gagal Move On paling ikonik dalam sejarah pop kultur.

Nostalgia di Persimpangan Jalan dan Stasiun Kereta

Lagu ini sebenarnya lahir jauh sebelum filmnya meledak, tepatnya pada tahun 1997. Namun, Makoto Shinkai seperti menemukan potongan teka-teki yang hilang saat memadukan lirik Yamazaki dengan visual kereta api dan kelopak sakura yang berguguran. Dalam film 5 Centimeters per Second, kita melihat bagaimana jarak dan waktu perlahan-lahan mengikis hubungan dua manusia, Takaki Tono dan Akari Shinohara, hingga menyisakan ruang hampa yang luas.

Lirik lagu ini menggambarkan seseorang yang terus mencari sosok terkasih di tempat-tempat yang paling tidak masuk akal—di jendela toko, di stasiun kereta api, hingga di persimpangan jalan yang padat. Penulisan lirik yang sangat spesifik tentang lokasi di Yokohama, seperti Sakuragicho, memberikan kesan bahwa rasa kehilangan itu nyata dan membumi. Ia bukan sekadar konsep abstrak, melainkan perasaan yang mencekik saat kita melewati tempat-tempat yang dulu penuh kenangan.

Bedah Lirik: Mengapa Kita Terus Mencari?

Kekuatan utama yang menjadikan lagu ini sebagai Melodi Gagal Move On adalah kejujurannya dalam mengakui kerentanan manusia. Bagian refrain yang berbunyi “Itsudemo sagashite iru yo, dokka ni kimi no sugata wo” (Aku selalu mencari sosokmu di suatu tempat) adalah pengakuan dosa bagi setiap orang yang pernah pura-pura sudah melupakan masa lalu.

Lagu ini menangkap fenomena psikologis di mana pikiran kita sering kali melakukan sabotase; saat kita meyakini telah melangkah maju, tiba-tiba sebuah aroma atau sudut jalan membawa kita kembali ke titik nol. Masayoshi Yamazaki tidak menawarkan solusi atau kata-kata motivasi untuk bangkit. Sebaliknya, ia memvalidasi bahwa merasa hancur adalah bagian dari mencintai. Inilah yang membuat pendengar merasa “ditemani” dalam kesunyian mereka.

Simbolisme Perpisahan dalam 5 Centimeter per Second

Dalam konteks film, judul 5 Centimeters per Second merujuk pada kecepatan jatuhnya kelopak bunga sakura. Shinkai menggunakan metafora ini untuk menggambarkan bagaimana dua orang yang sangat dekat bisa perlahan-lahan menjauh hingga akhirnya menjadi asing satu sama lain. Lagu ini menutup kisah tersebut dengan sebuah kenyataan pahit: tidak semua pencarian berakhir dengan pertemuan.

Pada adegan terakhir di perlintasan kereta api, saat lagu ini mencapai puncaknya, penonton diberikan sebuah resolusi yang menyesakkan. Takaki menoleh, berharap ada keajaiban di seberang rel, namun kereta yang lewat menghalangi pandangannya. Saat kereta berlalu, orang yang ia cari sudah tidak ada. Di sinilah Melodi Gagal Move On ini bekerja secara magis; ia membungkus rasa kecewa itu dengan harmoni yang indah, namun tetap menyisakan lubang di hati pendengarnya.

Relevansi “One More Time, One More Chance” di Era Modern

Meski sudah berusia hampir tiga dekade, lagu ini tetap relevan dan terus didengar hingga tahun 2026 ini. Mengapa? Karena teknologi boleh berubah, cara kita berkomunikasi bisa menjadi instan, namun rasa sakit karena perpisahan tetaplah sama. Di era di mana kita bisa memantau mantan kekasih lewat media sosial, lagu ini bertransformasi menjadi bentuk digital dari “mencari sosokmu di layar ponsel.”

Banyak musisi muda tetap membawakan ulang lagu ini karena nilai klasiknya yang tak lekang oleh waktu. Ia bukan sekadar tren sesaat, melainkan sebuah standar emas untuk lagu balada bertema patah hati. Kesederhanaan aransemennya yang hanya mengandalkan gitar, piano, dan vokal yang penuh penjiwaan membuktikan bahwa emosi yang tulus tidak butuh banyak hiasan.

Sebagai penutup, “One More Time, One More Chance” adalah sebuah pelukan bagi mereka yang masih terjebak di masa lalu. Ia mengingatkan kita bahwa gagal untuk melupakan bukanlah sebuah dosa. Selama kita masih manusia, kita akan selalu merindukan “satu kali lagi” atau “satu kesempatan lagi,” meskipun kita tahu bahwa takdir sering kali punya rencana yang berbeda. Bagi siapa pun yang pernah berdiri di perlintasan kereta api dan berharap seseorang menoleh kembali, lagu ini akan selalu menjadi lagu kebangsaan yang menemani langkah sunyi mereka.

RELATED ARTICLES
0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Promos

Penghasilan Kreator Roblox 2025 Makin Meningkat

Banyak orang masuk Roblox untuk main, eksplor map unik, atau sekadar nongkrong bareng teman. Tapi di 2025, Roblox semakin...

Recent Posts