Setelah 120 menit pertandingan yang menegangkan di MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey, resmi Spanyol Juara Piala Dunia 2026 dengan mengalahkan Argentina 1-0 lewat gol Ferran Torres di menit ke-106. Ini adalah gelar Piala Dunia kedua sepanjang sejarah La Roja, 16 tahun setelah mereka pertama kali mengangkat trofi emas di Afrika Selatan pada 2010. Dan ironisnya, kedua gelar itu diraih melawan lawan yang berbeda tapi momen perayaannya sama-sama didominasi nama Spanyol yang digaung-gaungkan di seluruh penjuru dunia.
Jalannya Pertandingan Final
Final yang disebut sebagai pertemuan masa depan versus masa lalu, Lamine Yamal versus Lionel Messi, ternyata justru dimenangkan oleh Ferran Torres, sosok 26 tahun yang tidak masuk dalam narasi besar manapun sebelum pertandingan dimulai.
Spanyol langsung mengambil kendali sejak menit pertama dan tidak pernah melepaskannya. Argentina bermain dengan pragmatis di bawah tekanan luar biasa, mengandalkan kiper Emiliano Martinez yang tampil fenomenal untuk mempertahankan skor imbang selama 90 menit regulasi bahkan ketika Messi sendiri nyaris tidak terlihat di lapangan.
Pertandingan berbalik secara dramatis di menit akhir waktu normal. Enzo Fernandez, gelandang Argentina, menerima kartu kuning kedua di menit 90+3 dan diusir keluar lapangan. Spanyol memasuki babak tambahan waktu dengan keunggulan 11 lawan 10 pemain, dan tekanan yang sudah terasa mencekik Argentina kini benar-benar tak tertahankan.
Di babak pertama extra time, Nico Williams sempat membobol gawang Argentina tapi gol dianulir wasit karena Mikel Merino dianggap melakukan pelanggaran terhadap Otamendi dalam proses membangun serangan. Spanyol tak menyerah. Merino sendiri kemudian nyaris mencetak gol dari sundulan tapi bola meleset tipis dari tiang.
Baru 39 detik setelah babak kedua extra time dimulai, Ferran Torres menyelesaikan semuanya. Tembakan keras dari jarak delapan yard merobek gawang Martinez yang selama ini berdiri seperti tembok, dan Spanyol akhirnya memecah kebuntuan yang sudah bertahan lebih dari 100 menit.
Statistik Final yang Berbicara Sendiri
Angka-angka dari laga final ini menceritakan betapa dominannya Spanyol Juara Piala Dunia 2026 sejak peluit pertama ditiup. Spanyol menguasai 65 persen penguasaan bola sepanjang laga, sementara Argentina hanya mendapat 35 persen. Spanyol melepas 20 tembakan dibanding Argentina yang hanya mampu menciptakan dua upaya sepanjang 120 menit. Dari 20 tembakan Spanyol, 12 di antaranya tepat sasaran. Argentina? Nol tembakan on target sepanjang pertandingan, termasuk nol tembakan sama sekali di sepanjang waktu normal 90 menit.
Angka expected goals (xG) semakin mempertegas cerita tersebut: Spanyol dengan 1.94 xG berbanding Argentina yang hanya mencatatkan 0.22 xG dari dua tembakan yang ada. Spanyol juga memenangkan sembilan corner kick berbanding empat milik Argentina. Martinez mencatat rekor baru penjaga gawang di pertandingan final Piala Dunia dengan delapan penyelamatan, tapi bahkan keajaiban individu sebesar itu tidak cukup untuk menyelamatkan Argentina dari kekalahan yang memang tercermin dalam statistik.
Messi, yang diharapkan menjadi penentu bagi Argentina seperti yang dia lakukan di Qatar 2022, hanya menciptakan satu tembakan sepanjang 120 menit, dan tembakan itu mengenai wajah Merino, bukan gawang Simon. Kenyataan pahit bagi pemain yang banyak disebut sebagai yang terbaik sepanjang sejarah.
Pahlawan dan Penghargaan
Ferran Torres jelas jadi nama yang paling dibicarakan setelah final ini, tapi perjalanan Spanyol menuju gelar ini jauh lebih dari sekadar satu gol. Lamine Yamal, remaja 19 tahun pemilik nomor punggung 19, tampil konsisten sepanjang turnamen sebagai motor serangan La Roja. Dia menghadapi Messi di final ini dalam pertandingan yang secara simbolis menggambarkan pergantian generasi sepak bola dunia, dan foto viral dari 2007 yang menunjukkan Messi menggendong Yamal saat masih bayi kembali beredar luas setelah peluit akhir berbunyi.
Rodri menerima penghargaan Golden Ball sebagai pemain terbaik turnamen, sebuah pengakuan yang sangat layak untuk gelandang yang memimpin lini tengah Spanyol dengan kelas dan stabilitas luar biasa sepanjang turnamen. Penghargaan ini melengkapi koleksi pribadinya yang sudah mencakup Ballon d’Or 2024 dan penghargaan pemain terbaik Euro.
Pau Cubarsí, bek tengah 19 tahun lainnya, mendampingi Yamal sebagai pasangan remaja yang menjadi fondasi Spanyol di dua sisi berbeda, menjadikan skuad Luis de la Fuente sebagai salah satu tim termuda yang pernah memenangkan Piala Dunia dalam sejarah modern.
Perjalanan Menuju Gelar Spanyol Juara Piala Dunia 2026
Menjadi “Spanyol Juara Piala Dunia 2026” bukanlah perjalanan yang selalu mulus. Di laga pembuka fase grup, Spanyol justru ditahan imbang 0-0 oleh Cape Verde, debutan yang tampil mengejutkan dan mematahkan ekspektasi awal. Tapi setelah melewati ujian awal itu, mesin La Roja tidak pernah benar-benar berhenti.
Sepanjang perjalanan menuju final, Spanyol menyingkirkan Belgia, Portugal, dan Prancis dalam tiga laga yang masing-masing bisa saja mengakhiri impian mereka. Yang paling memukau dari perjalanan ini adalah catatan kebobolan: hanya satu gol yang berhasil menembus gawang Simon selama seluruh turnamen, sebuah statistik defensif yang hampir tidak masuk akal di turnamen dengan 48 tim dan 104 pertandingan.
Luis de la Fuente menutup kiprahnya sebagai pelatih timnas Spanyol dengan statistik yang nyaris sempurna: 41 menang, 6 seri, dan hanya 2 kalah dari 49 pertandingan yang dia pimpin. Gelar Piala Dunia ini kini bergabung dengan trofi Euro 2024 yang sudah lebih dulu dia raih, menjadikannya salah satu pelatih paling sukses dalam sejarah sepak bola Spanyol.
