Tidak ada genre game yang perjalanannya sepanjang dan sekompleks JRPG. Dalam empat dekade, Sejarah JRPG mencakup kebangkitan dari game sederhana berbasis teks, kejayaan di era 16-bit yang melahirkan judul-judul ikonik, masa krisis identitas di era HD, hingga kebangkitan kembali yang membawa genre ini ke puncak relevansi global yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ini adalah cerita tentang bagaimana industri game Jepang menemukan suaranya sendiri, mempertahankannya di tengah tekanan pasar yang terus berubah, dan akhirnya membuktikan bahwa formula yang lahir di Kyoto hampir empat puluh tahun lalu masih relevan di 2026.
Saat ini, judul-judul baru game dengan genre JRPG masih sering rilis di platform game seperti Steam Store. Kamu bisa membelinya dengan Steam Wallet untuk base game maupun dlc yang ditawarkan.
Awal Mula: Dragon Quest dan Kelahiran Sebuah Genre
Untuk memahami sejarah JRPG secara utuh, perlu kembali ke 1986 ketika Yuji Horii, bersama Akira Toriyama sebagai illustrator dan Koichi Sugiyama sebagai komposer, menciptakan Dragon Quest untuk Famicom. Game ini bukan yang pertama menggunakan mekanik RPG karena Ultima dan Wizardry dari Amerika Serikat sudah lebih dulu ada, tapi Dragon Quest adalah yang pertama mengadaptasi formula tersebut untuk audiens mainstream Jepang yang belum terbiasa dengan kompleksitas CRPG Barat.
Horii menyederhanakan hampir segalanya. Combat menjadi turn-based dengan interface yang bisa dipahami siapa saja. Narasi dibuat linear agar pemain tidak kebingungan harus ke mana. Karakter dirancang dengan visual yang terinspirasi manga agar terasa familiar bagi anak muda Jepang. Hasilnya adalah game RPG yang untuk pertama kalinya terasa seperti bermain anime interaktif.
Dragon Quest sukses besar hingga Enix harus meminta pemerintah Jepang mengatur jadwal rilisnya agar tidak mengganggu hari sekolah dan hari kerja karena antrean di toko yang mengular. Satu tahun kemudian, Square merilis Final Fantasy pertama pada 1987, game yang diciptakan oleh Hironobu Sakaguchi sebagai proyek terakhir sebelum perusahaannya bangkrut. Final Fantasy tidak bangkrut, dan Square pun tidak jadi tutup.
Dua franchise ini membangun fondasi dari apa yang kemudian dikenal dunia sebagai JRPG: narasi yang berpusat pada petualangan hero, combat berbasis giliran, sistem level dan stat, serta musik yang dirancang untuk membangkitkan emosi pemain secara spesifik di setiap momen cerita.
Era Keemasan Super Famicom dan PlayStation
Era 16-bit dengan Super Famicom adalah masa yang sering disebut komunitas sebagai golden age sejarah JRPG, dan bukan tanpa alasan. Final Fantasy IV pada 1991 memperkenalkan sistem Active Time Battle yang mengubah combat turn-based menjadi lebih dinamis dengan bar waktu yang terus berjalan. Final Fantasy VI pada 1994 menghadirkan cast ensemble dengan belasan karakter playable yang masing-masing punya backstory mendalam, dan tanpa satu protagonis utama yang dominan. Di game yang sama, Nobuo Uematsu menciptakan “Terra’s Theme” dan “Aria di Mezzo Carattere”, membuktikan bahwa musik game bisa setara dengan komposisi film dalam hal kedalaman emosional.
Chrono Trigger pada 1995 adalah argumen terkuat untuk menyebut era ini sebagai puncak JRPG. Digarap oleh “Dream Team” yang terdiri dari Horii, Toriyama, dan Sakaguchi, dengan sistem combat yang memungkinkan serangan kombinasi antar karakter dan multiple ending berdasarkan pilihan pemain, Chrono Trigger menunjukkan bahwa JRPG bisa memiliki kedalaman naratif dan mekanik yang tidak perlu iri pada genre apapun.
Kemudian datang PlayStation dan segalanya berubah skala. Final Fantasy VII pada 1997 adalah momen ketika JRPG benar-benar mendunia. Untuk pertama kalinya, pemain Barat membeli console Jepang bukan untuk platformer atau fighting game, melainkan untuk mengikuti cerita Cloud Strife, Aerith Gainsborough, dan Sephiroth. Cinematik pre-rendered yang belum pernah ada sebelumnya, narasi yang membahas tema eksistensialisme, identitas, dan trauma, serta kematian karakter utama yang tidak bisa dibatalkan, semuanya membuktikan bahwa medium game bisa menyampaikan cerita dengan cara yang tidak kalah dari film atau novel.
Tahun-tahun berikutnya di era PlayStation adalah gelombang judul-judul luar biasa yang datang nyaris tanpa jeda: Xenogears, Suikoden II, Final Fantasy VIII, IX, Vagrant Story, dan Tactics Ogre. Jepang sedang berada di puncak pengaruhnya terhadap industri gaming global.
Krisis di Era HD dan Pertanyaan tentang Identitas
Transisi ke PlayStation 3 dan Xbox 360 adalah masa yang sulit dalam sejarah JRPG. Biaya produksi melonjak drastis karena standar visual HD yang baru, sementara Western RPG seperti Elder Scrolls: Oblivion, Mass Effect, dan Dragon Age tiba-tiba mendefinisikan ulang apa yang bisa dilakukan RPG dalam hal skala dunia, kebebasan pemain, dan kompleksitas narasi yang bercabang.
JRPG sebagai genre mendapat kritik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Linier dianggap ketinggalan zaman di era open world. Combat turn-based disebut membosankan di era action RPG yang serba real-time. Anime aesthetic yang selama ini jadi identitas genre tiba-tiba menjadi penghalang bagi audiens Barat yang lebih tua dan lebih luas.
Final Fantasy XIII pada 2009 adalah titik paling memolarisasi dalam sejarah franchise tersebut. Monorel yang tidak punya cabang, combat yang hampir otomatis, dan karakter yang tidak langsung simpatik membuat komunitas global bereaksi keras. Penjualannya tetap tinggi karena kekuatan brand, tapi sentimen komunitas yang kritis menandai bahwa sesuatu di JRPG mainstream perlu berubah.
Square Enix menghabiskan hampir satu dekade mencari jawaban, sering kali dengan cara yang menyakitkan baik bagi developer maupun pemain.
Kebangkitan Kembali: Persona, Like a Dragon, dan Generasi Baru
Kebangkitan sejarah JRPG di era modern datang bukan dari franchise terbesar, melainkan dari judul yang selama ini hidup di pinggiran perhatian mainstream. Persona 5 pada 2016 adalah momen yang mengubah persepsi global tentang apa yang bisa dilakukan JRPG. Atlus mengambil semua elemen yang dianggap “masalah” genre ini, narasi linier, karakter bertipe anime, estetika yang sangat Jepang, dan justru memaksimalkannya bukan menyembunyikannya. Hasilnya adalah game dengan art direction paling stylish yang pernah ada, tema sosial tentang pemberontakan generasi muda yang sangat relevan secara global, dan sistem calendar management yang membuat setiap hari di dalam game terasa bermakna.
Yakuza: Like a Dragon menjadi salah satu momen penting dalam evolusi JRPG modern. Setelah bertahun-tahun identik dengan aksi real-time bergaya Beat ’em Up, Ryu Ga Gotoku Studio (RGG Studio) dan SEGA mengambil langkah berani dengan mengubah seri ini menjadi turn-based RPG pada 2020. Perubahan tersebut bukan sekadar mengganti sistem pertarungan, tetapi juga menghadirkan pendekatan baru terhadap penceritaan, pengembangan karakter, sistem Job, hingga eksplorasi dunia yang tetap mempertahankan identitas khas seri Yakuza. Hasilnya, Like a Dragon membuktikan bahwa sebuah waralaba mapan masih bisa berevolusi tanpa kehilangan jati dirinya.
Dragon Quest XI di 2017 membuktikan bahwa formula klasik yang dipermodern masih sangat powerful. Xenoblade Chronicles 2 membawa world-building yang sangat ambisius. Octopath Traveler membuktikan bahwa pixel art HD-2D bisa bersaing visual dengan game modern manapun.
Lalu Final Fantasy XVI pada 2023 memilih jalan action RPG penuh tanpa sistem turn-based apapun, dan meskipun kontroversial, penjualannya membuktikan franchise ini masih relevan. Final Fantasy VII Rebirth pada 2024 memperluas remake proyek terbesar Square Enix dengan cara yang memuaskan veteran sekaligus menarik pemain baru.
Di 2025 hingga 2026, generasi terbaru JRPG semakin tidak bisa diabaikan. Clair Obscur: Expedition 33 dari studio Prancis yang terinspirasi JRPG membuktikan bahwa formula Jepang sudah melampaui batas geografis penciptanya. Octopath Traveler: Champions of the Continent dan berbagai judul mobile JRPG menunjukkan bahwa genre ini sekarang merangkul semua platform tanpa terkecuali.
Empat dekade sejarah JRPG adalah bukti bahwa genre ini selalu menemukan cara untuk bertahan dan berkembang. Dari Dragon Quest yang dirancang agar mudah diakses pemain Jepang pada 1986, hingga Yakuza: Like a Dragon yang berhasil mengubah seri aksi menjadi turn-based RPG modern tanpa kehilangan daya tariknya, JRPG terus menunjukkan kemampuannya untuk beradaptasi dengan perubahan zaman. Selama para pengembang masih berani bereksperimen sambil tetap mempertahankan kekuatan utama genre ini, JRPG akan selalu memiliki tempat di hati para pemain.
